Logo MettikoMettiko
Kembali ke Blog
Menelusuri Jejak Lilin dari Masa ke Masa

Menelusuri Jejak Lilin dari Masa ke Masa

Meski saat ini fungsi utamanya sebagai penerang telah digantikan oleh listrik, lilin tetap populer digunakan sebagai dekorasi, keperluan upacara, dan aromaterapi.

6 Juli 2026

Menelusuri Jejak Lilin dari Masa ke Masa

Lilin memiliki sejarah yang sangat panjang dan menarik, berawal dari kebutuhan mendasar manusia akan penerangan di malam hari. Sebelum masehi, peradaban kuno seperti Mesir dan Romawi telah mengembangkan bentuk awal lilin; bangsa Mesir kuno memanfaatkan sumbu yang direndam dalam lemak hewan (terutama lemak sapi atau domba), sementara bangsa Romawi kuno dianggap sebagai pelopor lilin gulung sejati dengan menggunakan kertas papirus yang dicelupkan ke dalam lilin lebah (beeswax) atau lemak cair.

Seiring berjalannya waktu, bahan baku lilin terus berevolusi. Pada abad pertengahan di Eropa, lilin lebah mulai populer karena menghasilkan aroma yang lebih harum dan tidak mengeluarkan banyak asap hitam dibandingkan lemak hewan, meski harganya sangat mahal dan hanya bisa dinikmati oleh kalangan gereja serta bangsawan. Revolusi industri pada abad ke-19 kemudian mengubah segalanya. Penemuan zat stearin dari lemak hewan serta puncaknya penemuan lilin parafin pada tahun 1850-an—yang disuling dari minyak bumi—membuat lilin menjadi produk massal yang murah, efisien, dan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat. Meskipun kini fungsinya sebagai sumber penerangan utama telah digantikan oleh listrik, lilin tetap eksis hingga hari ini sebagai elemen dekoratif, sarana upacara, maupun dekorasi aromaterapi untuk menciptakan suasana yang menenangkan.

Artikel Terkait